Tak banyak bangsa yang dapat menahan atau bahkan mengalahkan
serbuan buas tentara Mongol di era kejayaan para Khan-nya.
Tidak juga Rusia, termasuk juga kesultanan-kesultanan Islam,
banyak diantaranya tersungkur bersimbah darah di ujung panah
dan pedang tentara Mongol. Kekejaman tentara Mongol dalam
menyerbu dan menjarah kerajaan-kerajaan yang di kalahkannya
menjadi dongeng kelam kehancuran moralitas dan kemanusiaan.
Selain tidak menghargai nyawa manusia, mereka juga telah
menghancurkan peradaban umat manusia dengan membakari
gedung-gedung perpustakaan milik kerajaan yang dikalahkannya.
Ketika kesultanan Islam di Baghdad ditaklukan oleh tentara
Mongol yang dipimpin oleh Hulegu Khan, konon kekejaman hanya
dapat ditandingi oleh Hitler. Dalam suatu kisah pasukan Mongol
mendirikan "piramid" dengan bahan baku penggalan kepala
manusia, sebagai bukti kemenangannya terhadap Kesultanan
Abasiyah pimpinan al-Mutashim di tahun 1258 Masehi. Yang
menyedihkan selain banyaknya korban yang tewas, mereka
membakari perpustakan kesultanan yang konon pada saat itu
memiliki koleksi terbesar di dunia. Saking brutalnya
penghancuran kota Baghdad oleh Hulegu Khan, dikisahkan sungai
Tigris dan Eufrat yang membelah kota Bagdad berubah warnanya
menjadi merah kehitam-hitaman selama beberapa hari. Warna ini
berasal dari darah penduduk kota Bagdad yang tewas dibantai
tanpa prikemanusiaan, dan hitamnya merupakan tinta yang luntur
dari buku-buku yang dibuang tentara Mongol ke sungai tsb.
Pertempuran tentara Mongol dengan Pasukan dari Kerajaan di
Eropa
Namun tentara Mongol ternyata (meminjam istilah group band
'seriouz") manusia juga. Keletihan akibat kampanye perang yang
berkepanjangan membuat mereka kehilangan daya gempur.
Kemenangan dan keberhasilan bagaimanapun akan membuat orang
terlena, termasuk juga mereka. Namun efektivitas mereka
sebagai mesin perang tidak berkurang sedikit pun! Dari semua
kampanye perangnya tidak keseluruhannya berhasil, terutama
pada saat Mongol di puncak kekuasaannya yaitu di era Khubilai
Khan. Ketika itu Khubilai Khan berhasil menyatukan daratan
cina dalam genggamannya. Dan melirik ke wilayah-wilayah laut
sekitarnya sebagai batas baru penaklukannya. Tapi pengalaman
perang tentara Mongol menjadi sangat tidak berarti manakala
mereka dihadapkan pada perang laut dan perang rimba yang
berkepanjangan.
Khubilai Khan dengan para pengawalnya
Ketika Khubilai Khan mulai mengembangkan ototnya ke daratan
seberang, nyatalah kelemahan tentara Mongol. Mereka yang
terbiasa berperang di stepa-stepa kering Asia Tengah, tak
dapat mempertahankan diri dalam medan laut yang ganas, dan
kondisi iklim tropis yang terik dan lembab. Selain tentunya
keletihan yang amat sangat dalam kampanye perang yang tidak
berkesudahan. Kegagalan Mongol -mungkin- bisa jadi juga
diakibatkan telah dicabutnya mandat dari langit untuk
berkuasa, suatu kepercayaan yang kental melekat di benak
penguasa daratan chung kuo. Bahwa kekaisaran bisa berjaya
karena adanya mandat dari langit. Boleh jadi mandat itu
berakhir di tangan Khubilai Khan.
Bersama Mesir dan Jepang, Jawa merupakan salah satu kekuatan
besar regional yang mampu tidak hanya menahan tapi juga
melumpuhkan kekuatan tentara Mongol. Bahkan secara pribadi
saya lebih suka merujuk pada Mesir dan Jawa yang berhasil
secara militer menaklukan tentara Mongol, dibandingkan Jepang
yang menang karena kebetulan dimana Tentara Mongol yang
menyerbu habis tersapu dalam badai bahkan dalam 2 ekspedisi
yang berbeda waktunya! Mesir yang ketika itu berada dalam
kekuasaan dinasti Mameluk berhasil untuk pertamakalinya dalam
sejarah menaklukan tentara Mongol dalam perang terbuka di
tahun 1260 sehingga memaksa Mongol menarik diri dari Mesir dan
Palestina. Keberhasilan Mameluk menaklukan tentara Mongol
tidak hanya disebabkan oleh kehebatan tentaranya yang memang
sama-sama keterunan penakluk dari Asia Tengah, tapi juga
karena koordinasi yang sinergis serta cepatnya informasi
melalui sinyal api yang merentang dari Iraq ke Mesir
menyebabkan Mameluk dengan sigap dapat mengumpulkan tentaranya
menghantam Mongol.
Namun dalam literatur-literatur mengenai Mongol, kekalahan
Mongol oleh Mesir dan Jepang-lah yang acapkali disebut.
Sedangkan kehancuran Mongol di Jawa kadang tidak disebutkan
secara eksplisit. Kecuali dengan pernyataan sederhana bahwa
Mongol mengirimkan ekspedisi ke Jawa dan gagal tanpa
penjelasan yang spesifik di mana letak kegagalannya. Sialnya
dalam buku "Genghis Khan and The Mongol Conquests 1190 - 1400"
Stephen Turnbull meyebutkan bahwa kegagalan ekspedisi Mongol
di Asia Tenggara lebih disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca
yang tidak bersahabat bagi Tentara Mongol. Memang itu adalah
faktor yang menentukan dalam kegagalan ekspedisi Mongol ke
Jepang. Namun dalam kasus ekspedisi ke Jawa, kekuatan Mongol
benar-benar hebat khususnya dalam melumat kerajaan Kediri
pimpinan Jayakatwang yang berhasil mengalahkan Kertanegara.
Jadi faktor iklim dan cuaca menjadi hal yang nonsense dalam
kasus ekpedisi ke Jawa.
Para prajurit Jawa dari Keraton Yogyakarta
Kekalahan Mongol akibat serbuan mendadak tentara Raden Wijaya
pada saat pesta kemenangan terhadap Kediri, tetaplah suatu
keberhasilan militer. Dalam perang aspek pendadakan serta
upaya menimbulkan korban yang besar di pihak lawan melalui
tipu muslihat adalah hal biasa dan tidak mengurangi kredit
Raden Wijaya dan tentaranya dalam mengalahkan tentara Mongol
di tahun 1292 Masehi. Memang dalam kacamata sejarawan barat,
kemenangan tentara Jawa kurang prestisius dibandingkan
keberhasilan dinasti Mameluk, tapi setidaknya masih jauh lebih
hebat dibandingkan Jepang yang semata-mata berhasil menahan
serbuan Mongol karena bantuan cuaca.




No comments:
Post a Comment